For the Love of Books

Puisi

Arief Budiman dan Chairil Anwar: Pertemuan tanpa Percakapan

OLEH ERWINTON SIMPATUPANG
Peneliti Populi Center



| |

Dengan "Doa", Chairil berserah: "Tuhanku/ aku hilang bentuk/ remuk... Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling." Dengan sajak, Chairil mencemooh agama:

"Aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi Muhammadiyah bersungai susu
dan bertabur bidadari beribu.


Namun, sajak berjudul "Sorga" itu tidak hanya berhenti di situ. Larik-larik terakhirnya berbunyi:

"Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidadari
suaranya berat menelan seperti Nina
punya kerlingnya Yati? "


Dari sajak-sajak Chairil yang menyoal agama, yang kerap dijadikan sandaran (terakhir) manusia, Arief Budiman (AB) dalam Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan menyatakan bahwa 'Si Binatang Jalang' lebih dari sekadar mencemooh agama. Bagi AB, ia bahkan menolak secara ekstrem agama. Sebab, ia tidak mau menukarkan, terlebih mengorbankan, apa yang dimilikinya dengan sesuatu yang tidak pasti di masa depan. "'Lagi siapa yang bisa mengatakan pasti di situ memang ada bidadari' yang sama cantik dan genitnya seperti Nina dan Yati," perempuan-perempuan yang hadir di kehidupannya (hal. 51). Dari pernyataan AB, kita tahu bahwa Chairil memilih yang pasti 'di sini' dan 'di hari ini' daripada yang tidak pasti 'di sana' dan 'di kemudian hari'. Read More…

Pesan Ombak Padjadjaran: Prasasti Puitis dari Kampus Dipati Ukur

OLEH NANTO SRIYANTO
Peneliti LIPI, penikmat puisi



| |

bg1
Terbit pada 1993, saya kembali membukanya. Buku Pesan Ombak Padjadjaran: Sebuah Kado Ulang Tahun merupakan perayaan atas sembilan tahun lahirnya Gelanggang Seni Sastra Teater dan film (GSSTF) Unpad Bandung. Membaca karya mahasiswa pegiat seni 1990-an di paruh kedua dasawarsa milenium baru, kenangan apa yang terabadikan sementara zaman bergerak cepat?

Saya tidak tahu berapa banyak buku ini dicetak. Saya mendapatkannya dari sebuah lapak buku bekas di Cikapundung di medio awal 2000-an. Berlokasi di seputaran Museum Asia-Afrika dan dekat Jalan Braga, lapak tersebut adalah salah satu surga pemburu buku bekas. Pemburu buku bekas di seputaran Bandung mengingatnya dengan tinta emas tentang buku-buku langka yang berjodoh lewat para pelapak di situ. Demikian buku ini sampai ke tangan saya sebagai tonggak catatan bahwa para pegiat seni itu pernah muda. Semua karya mereka layak dirayakan sebagai semangat muda yang pantas terabadikan. Para penulis di dalamnya bisa jadi tidak semua berniat menjadi penyair, tapi semua penulis telah melahirkan puisi yang merekam cerita mereka pada usia yang takkan terulang lagi.

Read More…