For the Love of Books

Pesan Untuk Ekonom, Dari Banerjee dan Duflo

banerjeeduflo
They are not blind to the gains of trade, but they also see the pains,” tulis Banerjee dan Duflo.

Kutipan di atas berasal dari buku karya Banerjee dan Duflo yang mencoba menjelaskan berbagai persoalan besar seperti globalisasi, imigrasi, perubahan iklim dan kemajuan teknologi.

Di tahun 2019, Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer menerima penghargaan Nobel Prize in Economics Sciences atas pendekatan eksperimental mereka dalam mengurangi kemiskinan global.

Duflo sendiri merupakan perempuan kedua dan yang termuda yang pernah menerima penghargaan ini. Sudah barang pasti namanya saya masukkan dalam daftar panutan untuk #WomeninEconomics.

Salah satu kutipan Duflo yang paling saya senangi ketika diwawancarai terkait penghargaan ini adalah “we need to show younger people that economics is relevant to problems that they care about”. Well, mungkin Duflo sudah sering menerima keluhan mahasiswanya tentang apa makna dari beragam model matematika ekonomi dan berbagai statistik yang mereka temui di ruang kelas? Dan bagaimana itu bisa membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari? Read More…

Bung Hatta dan Buku

OLEH YOSHI ANDRIAN
Editor Jalankaji.net, illustrator
yoshi.andrian@jalankaji.net

yoshi_bunghatta

Bahasa Visual Orhan Pamuk

OLEH YULIANI LIPUTO
Blogger Bandung, Instagram @yuliani.liputo


Balkon_Orhan_Pamuk
seorang pelukis gagal, tapi sang pelukis tak pernah mati di dalam diriku."~Orhan Pamuk

Pada akhir Oktober 2019 di Sharjah, UAE, saya sempat mengikuti acara talk show yang menghadirkan Orhan Pamuk di panggung Sharjah International Book Fair. Dia berbicara tentang apa alasannya menulis dan kebebasan berekspresi di Turki.

Di akhir acara, antrean panjang hadirin menunggu giliran untuk mendapatkan tanda tangan di buku-buku karya Pamuk yang sengaja mereka bawa. Orhan Pamuk tampak santai, dia bersedia melayani pembicaraan dan permintaan berfoto dengan ramah. Malam itu saya membangun kesan bahwa Orhan Pamuk adalah seorang penulis sukses yang tak berjarak dengan pembacanya. Seorang sastrawan kelas dunia yang tidak rumit dan pongah. Saya mulai mengumpulkan dan membaca karya-karya Pamuk sejak itu. Read More…

Posisi Baca

OLEH DWINITA LARASATI
Dosen Desain Produk Industri FSRD ITB, Ketua Bandung Creative City Forum; pembuat dan penerbit graphic diary
tita.larasati@jalankaji.net


tita6

Hidup Gelap Tanpa Buku

OLEH YOSHI ANDRIAN
Editor Jalankaji.net, illustrator
yoshi.andrian@jalankaji.net

yoshi5

Menyoal Ulid Tak Ingin Ke Malaysia

OLEH BOSMAN BATUBARA
PhD fellow, Department of Human Geography, University of Amsterdam

Saya, untuk terlebih dahulu mengantisipasi pertanyaan atau gugatan yang bakal datang terhadap tulisan ini, bukanlah seorang kritikus sastra. Saya juga bukan seorang sastrawan. Ya, beberapa kali saya memang menulis esai tentang sastra, tetapi sampai saat ini saya merasa bahwa karya-karya itu belumlah cukup untuk menjadi modal buat disematkannya gelar kritikus sastra kepada saya. Demikian juga soal sastrawan. Saya memang menulis cerpen, tetapi lagi-lagi rasanya itu juga belum dapat membantu saya hingga saya menjadi pede dan menyebut diri sebagai sastrawan. Karena itu saya memilih posisi yang paling aman sajalah: pembaca. Ya, saya seorang pembaca.

Dalam perjalanan membaca kritik sastra di Indonesia, saya pernah menjumpai dua buah ide tentang sastra Indonesia yang sampai sekarang cukup merasuk dalam ingatan saya yaitu: 1) sebuah pendapat yang menyatakan bahwa novel-novel di Indonesia belakangan ini sangat jarang yang memiliki latar belakang pedesaan. Kalau tidak salah ingat saya membaca pendapat seperti ini dari salah satu wawancara dengan novelis Ahmad Tohari di salah satu majalah yang celakanya saya juga sudah lupa namanya;

dan 2) Saut Situmorang dalam esainya yang fenomenal berjudul "Politik Kanonisasi Sastra" (2007) menyampaikan salah satu permasalahan di dalam kesusastraan Indonesia adalah dominasi “sastra wangi.”

Selain dua poin di atas yang saya dapatkan dari orang lain, saya juga punya pendapat sendiri yaitu: 3) dalam pengalaman saya membaca novel-novel karya penulis kita (Indonesia) saya merasa kadang-kadang ada banyak kebolongan logika di dalamnya, sebuah hal yang akan saya coba jelaskan nantinya.

Ketiga permasalahan sastra tersebut, sependek yang dapat saya pikirkan, dijawab oleh sebuah novel berjudul Ulid Tak Ingin Ke Malaysia (UTIM) karya Mahfud Ikhwan (2009).

Read More…

Buku Ketiga Dibawa ke Mars

OLEH DWINITA LARASATI
Dosen Desain Produk Industri FSRD ITB, Ketua Bandung Creative City Forum; pembuat dan penerbit graphic diary
tita.larasati@jalankaji.net

tita5

Pendidikan Untuk Mencipta Manusia Kreatif dan Otonom

OLEH BUDHY MUNAWAR-RACHMAN
Dosen STF Driyarkara Jakarta


Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan yang tidak didasari oleh budaya bangsa akan menghasilkan generasi yang tercabut dari kebudayaan bangsanya sendiri. Pendidikan yang tidak menyatu dengan kebudayaan akan cenderung asing dan akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Dan hanya dengan pendidikan yang berakar pada budaya sendiri, maka bangsa ini akan selamat menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

Pendidikan dan kebudayaan merupakan proses kreatif yang tak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi dari keping uang yang sama. Bung Hatta pernah menyatakan bahwa apa yang diajarkan dalam proses pendidikan adalah kebudayaan, sedangkan pendidikan itu sendiri adalah proses pembudayaan. Keterkaitan pendidikan dengan kebudayaan juga semakin menemukan relevansinya, karena budaya merupakan faktor penentu keberhasilan (determinant factor) maju atau mundurnya sebuah peradaban bangsa.

Seorang aktivis dan cendekiawan Muslim, Yudi Latif, baru baru ini meluncurkan buku terbarunya berjudul "Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif". Buku ini menguraikan perspektif bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Karenanya, pendidikan nasional sudah seharusnya tetap berakar kuat pada bangsanya sendiri. Yakni pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Read More…