For the Love of Books

November 2020

Pesan Ombak Padjadjaran: Prasasti Puitis dari Kampus Dipati Ukur

OLEH NANTO SRIYANTO
Peneliti LIPI, penikmat puisi



| |

bg1
Terbit pada 1993, saya kembali membukanya. Buku Pesan Ombak Padjadjaran: Sebuah Kado Ulang Tahun merupakan perayaan atas sembilan tahun lahirnya Gelanggang Seni Sastra Teater dan film (GSSTF) Unpad Bandung. Membaca karya mahasiswa pegiat seni 1990-an di paruh kedua dasawarsa milenium baru, kenangan apa yang terabadikan sementara zaman bergerak cepat?

Saya tidak tahu berapa banyak buku ini dicetak. Saya mendapatkannya dari sebuah lapak buku bekas di Cikapundung di medio awal 2000-an. Berlokasi di seputaran Museum Asia-Afrika dan dekat Jalan Braga, lapak tersebut adalah salah satu surga pemburu buku bekas. Pemburu buku bekas di seputaran Bandung mengingatnya dengan tinta emas tentang buku-buku langka yang berjodoh lewat para pelapak di situ. Demikian buku ini sampai ke tangan saya sebagai tonggak catatan bahwa para pegiat seni itu pernah muda. Semua karya mereka layak dirayakan sebagai semangat muda yang pantas terabadikan. Para penulis di dalamnya bisa jadi tidak semua berniat menjadi penyair, tapi semua penulis telah melahirkan puisi yang merekam cerita mereka pada usia yang takkan terulang lagi.

Read More…

Mematut Matut Wajah Islam Kini

OLEH AMIRUDDIN AL RAHAB
Anggota KOMNAS HAM


| |

heresy
Islam secara sosiologis dan politik adalah kenyataan di Indonesia. Kenyataan itu jauh lebih tua dari negara bangsa yang kini kita kenal sebagai Indonesia. Atau bisa pula dinterpretasikan bahwa dari rahim komunitas Islam itu lah bangsa Indonesia menjelma berdinamika dengan komunitas-komunitas umat beragama lainnya.

Mendiskusikan fenomena perilaku komunitas-komunitas Islam sebagai gejala sosiologis dan politik, perpektif historis itu tidak bisa dikesampingkan. Dengan kata lain, bahwa komunitas-komunitas Islam memiliki berbagai peran dalam rentang sejarah pembentukan negara bangsa Indonesia adalah kenyataan. Namun sejarah juga menunjukan bahwa komunitas Islam yang berperan dalam membentuk Indonesia juga tidak pernah berwajah tunggal.

Ahmad Najib Burhani dalam Heresy and Politics: How Indonesia Islam Deal with Extremism, Pluralism and Populism (2020) menguraikan wajah Islam yang tidak tunggal itu. Ia memotret perubahan perilaku komunitas-komunitas Islam dalam merespon situasi Indonesia hari ini.

Buku ini tidak membentangkan pemikiran yang terkonsolidasi, melainkan percikan pemikiran untuk menangapi munculnya fenomena-fenomena perilaku harian beberapa komunitas Islam yang muncul ke ruang publik terkait politik dewasa ini yang cendrung konservatif dan ekstrem. Sebab, buku ini berisikan tulisan-tulisan pendek, kesaksian-kesaksian Burhani atas tingkah laku komunitas Islam dan elit-elitnya dengan segala wajahnya dalam menyikapi perkembangan sosial-politik di Indonesia. Read More…

Boyd Compton dan Studi Indonesia

OLEH HAMID BASYAIB
Penulis dan Komisaris Utama PT Balai Pustaka



| |
kemelut demokrasi_liberal
Bang Fachry Ali menulis tentang surat-surat yang saya terjemahkan hampir 30 tahun lalu dan diberi judul Kemelut Demokrasi Liberal: Surat-surat Rahasia Boyd R. Compton (LP3ES, Jakarta 1993). Cerita Bang Fachry kontan mengingatkan saya pada kisah dan proses di balik penerjemahan buku itu. Saya mendapatkan surat-surat itu ketika masih tinggal di Jogja, dari almarhum Dr Afan Gaffar, yang mendapatkannya dari gurunya di Ohio State University, Profesor R. Wiliam Liddle, yang kami panggil "Pak Bill."

Bentuknya surat ketikan biasa, dan rata-rata terdiri dari 5 sampai 10 halaman. Belum terjilid, belum tersusun. Surat-surat Compton itu ditujukan kepada direktur sebuah lembaga di Amerika, kalau tak salah bernama Institute of World of Affairs, yang membiayainya tinggal di Indonesia, mulai 1952 (hingga 1957). Compton pergi ke beberapa daerah, di terutama Jawa, meskipun dia berbasis di Jakarta.

Ia bahkan sampai ke Aceh untuk menemui Tengku Daud Beureuh, pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang, menurut Compton, sempat "ditendang ke atas" dengan diberi jabatan penasihat Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, agar terpisah dari pengikutnya yang bisa mengobarkan pemberontakan.
Ia bahkan sampai ke Aceh untuk menemui Tengku Daud Beureuh, pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang, menurut Compton, sempat "ditendang ke atas" dengan diberi jabatan penasihat Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, agar terpisah dari pengikutnya yang bisa mengobarkan pemberontakan.

Dalam salah satu suratnya, Compton menyalin surat lain, katanya dari seorang peneliti Barat, yang dengan sangat halus memperingatkan rekan-rekannya sesama peneliti untuk tidak memperlakukan Indonesia sebagai kelinci percobaan, hanya karena merupakan negara baru. Read More…

Sabda dari Surga

OLEH ERWINTON SIMATUPANG
Peneliti Populi Center




| |

hata ni debata
Beberapa dekade selepas Nommensen mengabarkan Injil di Tanah Batak, Sitor Situmorang menulis cerpen "Ibu Pergi ke Sorga". Di dalamnya, kita bersua dengan satu keluarga Batak Kristen, akan tetapi memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama itu: seorang anak lelaki yang sudah enggan bersentuhan dengan agama; ibu yang rutin ke gereja dan mengikuti kegiatan agama; dan bapak yang tampaknya belum beranjak dari praktik Parmalim, sekalipun sudah dibaptis menjadi seorang Kristen.

Jika Sitor Situmorang secara terang benderang menggambarkan sikap si anak dan ibu terhadap agama, ia justru secara samar-samar, atau tidak terlalu gamblang, mengilustrasikan keyakinan si bapak. Dalam benak orang Batak (Toba), khususnya mereka yang sudah berafiliasi dengan agama di luar Parmalim, (penganut) agama Parmalim acap kali digambarkan dengan takhayul, mantra, dan makan sirih. Dan Sitor Situmorang mendeskripsikan si bapak persis seperti itu:

"Ia (baca: bapak) masih mengucapkan mantera kalau ada kejadian istimewa dengan diri atau keluarganya... Ia duduk sendirian di sudut ruangan dalam yang besar sambil menumbuk sirihnya di lesung kecil dibuat dari perak".
Read More…

David Streidfeld Bertemu Gabriel Garcia Marquez

OLEH NEZAR PATRIA
Direktur PT. Pos Indonesia
nezar.patria@jalankaji.net



| |

streidfeld
David Streidfeld adalah seorang wartawan yang beruntung. Sewaktu masih menjadi koresponden sastra untuk The Washington Post, David mencoba mengejar sastrawan kondang Gabriel Garcia Marquez, yang akrab dipanggil Gabo untuk sebuah wawancara. Pada 1993, Gabo berada pada puncak ketenaran, karyanya “Seratus Tahun Kesunyian” telah menjadi salah satu ikon sastra Amerika Latin. David, mengutip seorang kritikus sastra, mengatakan karya itu mirip “batu bata yang memecahkan kaca jendela, dan membawa masuk kehidupan nyata jalanan, bunyi, warna dan sensasinya. Peristiwa magis—jejak darah yang mengaliri kota dan masuk ke dalam rumah, dan secara cermat menghindari menodai karpetnya: kembang-kembang surgawi—amat lugas sampai-sampai terasa masuk akal”.


Tapi David tak gampang bertemu Gabo. Sastrawan itu suka menghindar, dan tentu saja makin sulit dikejar terasa makin setengah-dewa dan legendaris Tuan Gabo itu. Bagi David, dia seperti mendapat lotere ketika Gabo mengundang datang ke rumahnya di Kota Meksiko, dan itu terjadi setelah dia mengirimkan puluhan kali surat permohonan wawancara. Dan Gabo memang luar biasa simpatik saat menyambutnya siang itu di bungalow belakang rumahnya, yang juga menjadi kantor si penerima Nobel Sastra itu. Read More…

Dilema Kekuasaan dan Kebebasan

OLEH EDBERT GANI SURYAHUDAYA
Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS



| |

narrow_corridor
Selama ribuan tahun sejarah politik dunia, hal yang selalu menjadi paradoks adalah soal pola. Dimana pola tersebut telah mengubah masyarakat yang dulunya terkotak-kotak pada kelompok kesukuan maupun adat yang kecil, menjadi berpusat pada satu kekuatan negara yang begitu kuat. Institusi yang kuat ini kemudian memungkinkan masyarakat yang terdiri dari jutaan orang dapat berfungsi. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kekuatan besar yang dimiliki negara dapat berjalan beriringan dengan kebebasan bagi masyarakatnya? Dilema ini diungkapkan oleh Jared Diamond, peraih Putlizer Prize melalui bukunya Guns, Germs, and Steel. Menurut Diamond, buku The Narrow Corridor: States, Societies, and The Fate of Liberty, yang ditulis ole Darren Acemoglu dan James Robinson (2019) ini memberikan pembacanya jawaban atas dilema itu.

Dalam buku pertama duet Acemoglu dan Robinson berjudul Why Nations Fail (2012), keduanya mengembalikan pentingnya desain institusi sebagai faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Mereka berargumen bahwa institusi negara yang inklusif akan melahirkan ekonomi yang inklusif. Pertumbuhan ekonomi akan terjadi karena terdapat ruang bagi masyarakat un Read More…

Pakta Pertanian: Perjanjian Dengan "Setan"

OLEH HATIB ABDUL KADIR
Dosen Antropologi, Universitas Brawijaya Malang
Meraih gelar Ph.D di UC Santa Cruz, Amerika Serikat.



| |



the_devil
Michael Taussig dalam karya babonnya, The Devil Commodity Fethisism in South America menggambarkan ketergantungan petani tembakau, kina, kopi, karet di Lembah Cauca, Kolombia terhadap uang tunia. Ketergantungan terhadap uang tunai ini digambarkan dengan penuh metaforis. Para buruh upahan di perkebunan Kolumbia melakukan kontrak dengan setan agar dapat meningkatkan produktivitas mereka. Uang dipercaya bersifat gersang (tidak subur) tidak dialokasikan untuk menjadi modal dan dikembangkan melalui bunga. Karena sifat tandusnya, uang yang diinvestasikan ke tanah, maka tanah tersebut tidak akan menghasilkan buah. Jika ia dibelanjakan hewan, ia akan tidak akan gemuk, namun mengalami kematian. Para pekerja di perkebunan mengalokasikan uang mereka dengan konsumsi foya-foya.

Namun, secara moral, uang dapat dikembangkan menjadi subur dengan cara ditransferkan melalui ritual. Ritual baptisme di perkebunan Kolombia merupakan aksi untuk mengubah sifat uang yang tandus menjadi subur. Ritual baptis menyembah Tuhan merupakan antitesis dari sifat setan yang ada dalam karakter bunga uang yang menjadi modal (interest bearing capital).   Read More…

Kaum Konservatif dan Progresif Nan Elitis

OLEH MADE SUPRIATMA
Peneliti di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) - Yushof Ishak Institute, Singapura



| |

Donald Trump mendulang 70 juta lebih suara. 48 persen pemilih Amerika memilih dia. Berlawanan dengan perkiraan orang, dia memperluas elektorat secara rasial. Pemilihnya naik di kalangan Latino/Hispanic yang menjadi 'korban' kebijakan imigrasinya. Juga naik di kalangan orang kulit hitam, yang turun ke jalan secara besar-besaran dalam gerakan Black Lives Matter.

Bahkan Trump juga mendapat kenaikan suara dari golongan LGBTQ yang banyak dirugikan oleh kebijakannya khususnya dalam bidang kesehatan dan berpartisipasi dalam militer.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya melihat kembali buku Thomas Frank ini. Dalam buku terbitan 2004 ini, Frank menjelaskan bagaimana gerakan Konservatif yang menjadi pondasi Partai Republik mulai masuk ke kalangan kelas buruh Amerika.

Frank memberikan penilaian yang mengejutkan tentang keberhasilan golongan Konservatif dalam menaklukan basis tradisional kaum Liberal, yakni kelas buruh.


Konservatif Republikan menawarkan 'values' (nilai-nilai) kepada anggota-anggota serikat buruh. Misalnya, isu aborsi menjadi isu yang mengalahkan ekonomi. Kecurigaan kepada hal-hal yang asing, kepada imigran, kepada perubahan-perubahan nilai-nilai tradisional dipompakan kepada kelas buruh. Read More…

Pilihan Berkelahi di Fifth Avenue, New York

OLEH TRI JOKO HER RIADI
Redaktur Pelaksana di ayobandung.com, meraih MA dari Ateneo de Manila University


| |

PHOTO-2020-11-10-20-58-55
Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan perbincangan, dan kadang perkelahian, yang tak habis-habis. Pada tahun 1954, di bawah guyuran hujan di kota New York, wartawan Mochtar Lubis dan pemuda Hasan Tiro dengan serius memperbincangkannya.

Perbincangan itu dituliskan Mochtar dalam buku kumpulan catatan perjalanan jurnalistiknya “Indonesia di Mata Dunia”. Saya memiliki cetakan pertama yang diterbitkan oleh National Publishing House, Jakarta, tanpa keterangan tahun. Yang jelas, cetakan kedua buku ini diterbitkan oleh Tintamas pada 1960.

“Indonesia di Mata Dunia” berisi olok-olok dan kritik Mochtar Lubis untuk diplomasi luar negeri Indonesia. Ia menceritakan bagaimana buruknya strategi Indonesia dalam pembahasan masalah Irian Barat (sekarang Papua) dalam sidang Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di New York. Tanda-tanda kegagalan sudah terlihat jauh-jauh hari.

Mochtar Lubis juga menyajikan banyak cerita satir, seperti hobi belanja Menteri Luar Negeri Sunaryo. Datang ke Amerika Serikat dengan menenteng dua koper, Sang Menteri pulang ke Indonesia mengangkut puluhan koper. Ada juga cerita tentang hobi pelesir Duta Besar Helmi, yang bertugas untuk Swiss dan Vatikan, yang dengan cerdik ia bebankan seluruh pembiayaannya ke negara. Read More…

Huntington dan Matinya Teori Modernisasi

OLEH GDE DWITYA ARIEF METERA
Mahasiswa program doktoral ilmu politik di Northwestern University, Amerika Serikat.


| |
–perihal pembangunan ekonomi dan stabilitas politik

Fukuyama suatu kali menulis bahwa teori modernisasi mati karena ditelikung dari dua sisi: kiri dan kanan sekaligus. Jika dari kiri ia diserang oleh kaum dependensia dengan argumen center dan peripheral capitalism-nya, maka dari kanan, ia ditamatkan riwayatnya hanya oleh satu buku: Political Order in Changing Societies, karya Samuel Huntington.

Asumsi teori modernisasi, sebagai yang kita ketahui, adalah gerak teleologis masyarakat yang bermula dari kondisi tradisional menuju modernitas. Modernitas di sini dipahami sebagai kondisi terkini dari perkembangan struktur ekonomi yang kian kompleks dan pengorganisasian power di masyarakat yang mengalami proses institusionalisasi dan rasionalisasi ala Weber. Bagian terpenting dari teori modernisasi adalah kepercayaan bahwa dua gerak, ekonomi dan politik ini, berjalan beriringan. Modernisasi ekonomi dalam bentuk pembangunan ekonomi pasar dan industri dipercaya membawa pula modernisasi politik dalam bentuk pengadopsian institusi politik modern yang stabil, semisal demokrasi. Daniel Lerner dalam The Passing of Traditional Society menulis bahwa “aspek-aspek modernisasi seperti urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, edukasi, dan partisipasi tidaklah terjadi secara asal.” Mereka sangatlah terkait satu sama lain, hingga tampaknya dalam proses sejarah mereka “harus saling berdampingan” (Lerner via Huntington, hal.32). Karya Huntington yang terbit di tahun 1968 ini tepat menggugat bagian terpenting tersebut: bahwa gerak ekonomi dan gerak politik ini sebenarnya tidak berjalan beriringan. Read More…

Luka dan Hidup

OLEH ARMAN DHANI
Editor jalankaji.net
a
rman.dhani@jalankaji.net



| |


emilybronte_wutheringheights
Salah satu penggambaran luka dan kekecewaan yang paling membekas dalam hidup saya, adalah kisah hidup Heathcliff dalam novel Wuthering Heights karangan Emily Bronte. Kekecewaan yang luar biasa karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa cintanya pada Catherine Earnshaw kandas karena status. Luka itu dipelihara Heathcliff menjadi bahan bakar untuk membalas dendam. Mumford and Sons, yang kemudian mengisi soundtrack lagu untuk adaptasi novel ini pada 2011 menggambarkan dengan sempurna kekecewaan Heathcliff dalam bentuk lagu.

Mereka yang membaca Wuthering Heights mungkin akan setuju penerjemahan lirikan Mumford and Sons demikian dekat dengan plot dan karakter Heathcliff. Seorang Anak pungut yang hidup dalam keluarga tuan tanah, jatuh cinta dengan putri ningrat, dibenci oleh saudara laki-laki si perempuan, dan diusir karena tak lagi punya perlindungan. Heathcliff hanya tahu satu wajah cinta dari Catherine dan ketika perempuan ya Read More…