For the Love of Books

Novel

The Meursault Investigation Menggugat Albert Camus

OLEH NANDA WINAR SAGITA
Guru sejarah, penulis lepas

Siapa pun yang sudah membaca The Stranger karya Albert Camus, semestinya harus membaca juga The Meursault Investigation karya Kamel Daoud. Ingat penutup bagian pertama—yang juga paling banyak dipuji—dari novel singkat karya Camus tersebut?

Tepatnya saat Mersault, dengan sikap nihilis dan segala ketidakacuhannya pada dunia, menembaki seorang Arab di pantai bahkan setelah si Orang Arab itu tergeletak tidak berdaya. Ya, buku ini adalah jawaban dari tragedi tersebut. Read More…

Kafka Di Tengah Badai

OLEH YULIANI LIPUTO
Blogger Bandung, Instagram @yuliani.liputo

kafkatheshore2
Setelah membaca beberapa novel Murakami, saya bisa mengatakan saya lebih tertarik pada ekspresi artistiknya, metafora segar, makna tersembunyi, dan dialog-dialog cerdasnya daripada plot cerita, drama dan romansanya. 

Dunia surrealisme yang digambarkan Murakami tentu saja masih menarik, penuh kejutan. Realisme magisnya selalu berhasil membuat kita terlontar ke dunia  lain, terbawa ke dalam imajinasi yang lepas.

Tokoh-tokohnya mengalami banyak penderitaan, kesepian, petualangan seks, krisis, dan kebahagiaan. Namun beberapa hal terasa mengulang dari novel ke novel, Murakami terasa mendaur ulang beberapa trik bercerita dalam novelnya. Read More…

Menyoal Ulid Tak Ingin Ke Malaysia

OLEH BOSMAN BATUBARA
PhD fellow, Department of Human Geography, University of Amsterdam

Saya, untuk terlebih dahulu mengantisipasi pertanyaan atau gugatan yang bakal datang terhadap tulisan ini, bukanlah seorang kritikus sastra. Saya juga bukan seorang sastrawan. Ya, beberapa kali saya memang menulis esai tentang sastra, tetapi sampai saat ini saya merasa bahwa karya-karya itu belumlah cukup untuk menjadi modal buat disematkannya gelar kritikus sastra kepada saya. Demikian juga soal sastrawan. Saya memang menulis cerpen, tetapi lagi-lagi rasanya itu juga belum dapat membantu saya hingga saya menjadi pede dan menyebut diri sebagai sastrawan. Karena itu saya memilih posisi yang paling aman sajalah: pembaca. Ya, saya seorang pembaca.

Dalam perjalanan membaca kritik sastra di Indonesia, saya pernah menjumpai dua buah ide tentang sastra Indonesia yang sampai sekarang cukup merasuk dalam ingatan saya yaitu: 1) sebuah pendapat yang menyatakan bahwa novel-novel di Indonesia belakangan ini sangat jarang yang memiliki latar belakang pedesaan. Kalau tidak salah ingat saya membaca pendapat seperti ini dari salah satu wawancara dengan novelis Ahmad Tohari di salah satu majalah yang celakanya saya juga sudah lupa namanya;

dan 2) Saut Situmorang dalam esainya yang fenomenal berjudul "Politik Kanonisasi Sastra" (2007) menyampaikan salah satu permasalahan di dalam kesusastraan Indonesia adalah dominasi “sastra wangi.”

Selain dua poin di atas yang saya dapatkan dari orang lain, saya juga punya pendapat sendiri yaitu: 3) dalam pengalaman saya membaca novel-novel karya penulis kita (Indonesia) saya merasa kadang-kadang ada banyak kebolongan logika di dalamnya, sebuah hal yang akan saya coba jelaskan nantinya.

Ketiga permasalahan sastra tersebut, sependek yang dapat saya pikirkan, dijawab oleh sebuah novel berjudul Ulid Tak Ingin Ke Malaysia (UTIM) karya Mahfud Ikhwan (2009).

Read More…

Menikmati Tragedi Melalui Stand-Up Comedy

OLEH NANDA WINAR SAGITA
Seorang guru sejarah; penulis lepas

davidgrossman
Bacaan mengajarkan saya bahwa orang Israel juga punya keresahan yang sama seperti kita: keresahan dalam menjalani hidup normal. Setidaknya begitulah yang saya simpulkan setelah membaca Etgar Keret dan Amos Oz. Keret resah dengan kekerasan dan Oz resah dengan kerusakan. Kendati pandangan politik Keret dan Oz bisa dibilang berseberangan, idealisme mereka untuk mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina sama. Demikian juga dengan penulis Israel lain: David Grossman.

David Grossman adalah penulis Israel ketiga yang saya baca. Dia punya riwayat kelam dengan perang. Pada 2006, Uri, putra bungsunya yang juga seorang komandan tank dalam Perang Lebanon, tewas di usia 20 meski baru dua hari menjadi tentara. Grossman menulis buku Falling Out of Time untuk mengenang Uri. Pada 2010, Grossman dihajar oleh polisi Israel saat berpartisipasi dalam demonstrasi menentang pembangunan Pemukiman Israel di wilayah Palestina.

Saat ditanya wartawan The Guardian mengapa seorang penulis masyhur sepertinya bisa diserang oleh polisi, Grossman cuma menjawab, “Aku tidak tahu apakah polisi itu mengenalku.” Begitulah Grossman. Tetap kritis terhadap kebijakan Israel meski dia sendiri adalah bagian dari negara itu.


Read More…

Murakami dan Persimpangan-Persimpangannya

OLEH RIZKI NAULI SIREGAR
Kandidat Ph.D bidang Ilmu Ekonomi di University of California, Davis.

murakami_colorless
Inilah buku dengan kehangatan yang mudah dikenali. Kehangatan yang amat khas Murakami: alurnya, deskripsinya akan setiap kejadian, rasa, pengalaman, latar belakangnya, juga karakter-karakternya. Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa ini karya yang biasa-biasa saja, justru saya mencoba mengatakan kepada mereka yang memiliki ekspektasi atas sensasi dari membaca Murakami bahwa ini adalah buku yang tepat.

Buku ini juga akan terasa dekat bagi siapa pun yang, seperti Tsukuru tokoh utamanya, memiliki ketertarikan khusus pada stasiun. Mungkin juga ia menarik untuk yang pembaca yang suka dengan magisnya bandara. Tenggelam dalam buku ini di masa pandemi, yang sudah membuat saya harus menunda beberapa rencana perjalanan, mungkin justru membantu saya untuk tersentuh dengan minat Tsukuru akan stasiun, dan mungkin ruang persimpangan lainnya. Read More…

Luka dan Hidup

OLEH ARMAN DHANI
Editor jalankaji.net
a
rman.dhani@jalankaji.net



| |


emilybronte_wutheringheights
Salah satu penggambaran luka dan kekecewaan yang paling membekas dalam hidup saya, adalah kisah hidup Heathcliff dalam novel Wuthering Heights karangan Emily Bronte. Kekecewaan yang luar biasa karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa cintanya pada Catherine Earnshaw kandas karena status. Luka itu dipelihara Heathcliff menjadi bahan bakar untuk membalas dendam. Mumford and Sons, yang kemudian mengisi soundtrack lagu untuk adaptasi novel ini pada 2011 menggambarkan dengan sempurna kekecewaan Heathcliff dalam bentuk lagu.

Mereka yang membaca Wuthering Heights mungkin akan setuju penerjemahan lirikan Mumford and Sons demikian dekat dengan plot dan karakter Heathcliff. Seorang Anak pungut yang hidup dalam keluarga tuan tanah, jatuh cinta dengan putri ningrat, dibenci oleh saudara laki-laki si perempuan, dan diusir karena tak lagi punya perlindungan. Heathcliff hanya tahu satu wajah cinta dari Catherine dan ketika perempuan ya Read More…